Diposkan pada 27-08-2017
411
0

Isu-isu lingkungan sulit masuk ke media massa arus utama karena dianggap tak bisa mendatangkan uang. Para jurnalis lingkungan pun kerap sulit untuk mengekspresikan gagasan yang independen karena media tempat mereka bekerja lebih mengutamakan sisi komersial. 

Hal ini terungkap dalam diskusi "Permasalahan Energi dan Lingkungan di AS dan Indonesia dari Sudut Pandang Jurnalisme" yang berlangsung di Aula Pikiran Rakyat, Bandung, Sabtu, 26 Agustus 2017.

Acara tersebut dihadiri Prof Matthew Frank dari Universitas Montana, Jubir Kedubes AS Gurdip Singh, Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat Rahim Asyik, dan belasan jurnalis serta mahasiswa.

Menurut Prof Matthew, yang menjadi pembicara utama dalam acara tersebut, untuk mengatasi masalah tersebut diatas, dibutuhkan kehadiran banyak media independen. Di Amerika Serikat, kata Frank, masalah serupa juga dialami sejumlah media lokal. Namun banyaknya media independen di AS dan juga tingginya tingkat kepedulian warga setempat terhadap isu-isu lingkungan, ini membuat isu-isu lingkungan sulit disetir kaum pemilik modal. 

Lebih lanjut, kata Frank, jurnalis punya kewajiban untuk membuat tulisan yang bisa menggugah sekaligus meningkatkan kepedulian pembaca terhadap isu-isu lingkungan. Dalam hal ini, untuk membuat tulisan menarik soal lingkungan, Matthew menyarankan jurnalis untuk mengambil sudut pandang humanis.

Bagi Matthew, kisah tentang orang akan menghasilkan resonansi yang kuat terhadap audiensnya. Misalnya, soal polusi laut, jurnalis bisa membuat kisah soal nelayan yang terkena imbas masalah tersebut.

Selain itu, tips atau nasihat lainnya, Matthew menyarankan jurnalis untuk mengkaitkan tulisan soal lingkungan dengan topik kesehatan. "Setiap orang kan ingin sehat. Tak ada yang mau sakit," ujarnya.
Oleh karena itu, mengkaitkan tulisan soal lingkungan dengan kesehatan akan membuat orang tertarik membacanya.

Pada dasarnya, kata Matthew, jurnalisme lingkungan itu mencakup banyak hal, seperti ekonomi, makanan, teknologi, aktivitas manusia, transportasi, gaya hidup, dan politik. Karena definisi jurnalisme lingkungan itu sangat luas, para wartawan pun bisa mengeksplorasi beragam tema untuk meningkatkan kesadaran warga soal masalah lingkungan hidup.

Tantangan berbeda

Terkait keberadaan jurnalis lingkungan, Matthew mengakui bahwa tantangan yang dihadapi para wartawan di Indonesia jauh lebih berat ketimbang di AS. Salah satunya, masalah konflik kepentingan.

Dia mencontohkan, perusahaan media bisa memutuskan untuk tak memuat berita atau tulisan yang dinilai menyinggung kepentingan perusahaan pemasang iklan yang punya masalah dengan lingkungan. Masalah ini bisa dihindari jika media tak bergantung pada pendapatan iklan. Namun, jika pemasukan utama dari iklan, maka jurnalis akhirnya menjadi korban.

Namun, Matthew mengingatkan bahwa karya jurnalistik itu harus mengungkap kebenaran dan kejujuran intelektual. Bukan sekedar objektif. Media massa, papar Matthew, harus dapat membantu publik untuk memahami apa yang terjadi di sekitarnya. Tujuannya, agar mereka bisa  berpartisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan yang terkait dengan hidup orang banyak.

Berita Terkait

Komentar

Berikan Komentar