Diposkan pada 13-10-2017
1603
0

SUARAPONDOKGEDE.COM, Bekasi - Semakin Maraknya peredaran Obat Penenang yang di jual bebas di toko toko obat , atau toko yang berlabel menjual alat kosmetik di kota bekasi , hampir semakin jelas dan terang terangan para remaja membeli obat tersebut.

Hasil pemantauan team Suarapondokgede.com di wilayah pondokgede banyak toko obat yang menjual obat penenang tersebut  para remaja yang masih mengenyam pendidikan SMP dan SMU ramai mendatangi Toko toko tersebut hanya untuk mempbeli obat penenang seperti Tramadol dll.  pembelian tersebut tanpa menggunakan resep dokter .  memamng obat penenang tersebut tidak masuk undang undang Narkoba  tapi efek merusaknya dan efek meracuni mental para pemuda sama dengan Narkoba yang masuk kategori UU Narkoba. 

Dengan banyaknya pengaduan dari masyarakat  Pemkot Bekasi menutup 2 toko obat yang ditengarai menjual obat penenang tanpa resep dokter. Berdasarkan pantauan, toko obat itu kerap menjadi tempat nongkrong para Remaja.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Kusnanto Saidi menjelaskan, mulanya petugas pemantau di lapangan memang curiga dengan dua toko obat tersebut yang berada di daerah selatan Kota Bekasi tersebut.

Dua toko obat tersebut, kata dia, memang kerap jadi tempat ‘nongkrong’ para pelajar. Ketika petugas memeriksa toko obat tersebut, rupanya mereka menjual bebas obat penenang jenis Heksimer dan Triheksipenidil. Meski demikian, Kusnanto enggan menyebutkan dua toko obat yang telah ditutup tersebut.

”Izinnya ada tapi mereka menyalahi aturan. Pembelian obat tersebut harus disertai obat dokter. Ini dijual bebas. Sehingga tegas kami tutup,” tegasnya. 

Dua jenis obat tersebut bila digunakan dengan dosis tepat memang tidak berbahaya. Namun, digunakan tidak sesuai dosis efeknya bisa mirip dengan narkoba.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bekasi Tanti Rohilawati menyampaikan, saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan aparat setempat untuk menindak adanya dugaan peredaran narkoba berkedok obat di wilayahnya.”Kita minta masyarakat melaporkanya kepada kami,” katanya.

Tanti mengaku, saat ini Dinkes Kota Bekasi hanya memiliki delapan orang petugas pengawas apotik, klinik dan toko obat. Jumlah tersebut belum sesuai untuk mengawasi ribuan toko obat, apotik dan klinik yang ada. Apalagi, jumlahnya terbatas, jadi peran masyarakat dibutuhkan.

Berita Terkait

Komentar

Berikan Komentar